Senin, November 14, 2011

System Life Cycle VS System Development Life Cycle

System Life Cycle (SLC)

System Life Cycle (SLC) adalah proses evolusi yang diikuti oleh pelaksanaan sistem informasi dasar atau subsistem. Telah ada pendekatan implementasi tradisional sepanjang era komputer, dan ada perjanjian umum antara ahli-ahli komputer sehubungan dengan tugas-tugas yang dilaksanakan.

Beberapa SLC terdapat dalam perusahaan yang menggunakan komputer, mungkin ada seratus atau lebih. Pada kenyataannya SLC adalah sarana yang digunakan oleh manajemen untuk melaksanakan rencana strategis. Konsep life cycle menjadikan segala sesuatu yang tumbuh, menjadi dewasa setiap waktu dan akhirnya mati. Pola ini digunakan untuk sistem dasar komputer seperti subsistem pemrosesan data atau SSD.

Lima Fase dalam SLC :

1. Fase Perencanaan
Fase ini dimulai dengan mendefinisikan masalah dan dilanjutkan dengan sistem penunjukan objektif dan paksaan. Di sini sistem analis memimpin studi yang mungkin terjadi dan mengemukakan pelaksanaannya pada manajer.

2. Fase Analisis

Fase ini mempunyai tugas penting yaitu menunjukkan kebutuhan pemakai informasi dan menentukan tingkat penampilan sistem yang diperlukan untuk memuaskan kebutuhan tersebut. Fase ini meliputi penetapan jangkauan proyek, mengenal resiko, mengatur rangkaian tugas, dan menyediakan dasar untuk kontrol.

3. Fase Desain

Fase Desain ini meliputi penentuan pemrosesan dan data yang dibutuhkan oleh sistem yang baru, dan pemilihan konfigurasi terbaik dari hardware yang menyediakan desain. Desain system adalah ketentuan mengenal proses dan data yang dibutuhkan oleh sistem yang baru.

4. Fase Pelaksanaan / Implementasi

Fase ini melibatkan beberapa spesialis informasi tambahan yang mengubah desain dari bentuk kertas menjadi satu dalam hardware, software, dan data. Pelaksanaan adalah penambahan dan penggabungan antara sumber-sumber secara fisik dan konseptual yang menghasilkan pekerjaan sistem.

5. Fase Pemakaian / Penggunaan

Selama fase penggunaan, audit memimpin pelaksanaannya untuk menjamin bahwa sistem benar-benar dikerjakan, dan pemeliharaannya pun dilakukan sehingga sistem dapat menyediakan kebutuhan yang diinginkan.

Dari kelima fase di atas, empat fase di awal disediakan untuk dikembangkan, jadi metode yang ada didalamnya dapat berkembang sesuai zaman. Sedangkan fase yang terkahir tidak untuk dikembangan, hanya sebagai pelaksanaannya saja.



System Development Life Cycle (SDLC)

System Development Life Cycle (SDLC) adalah tahapan-tahapan pekerjaan yang dilakukan oleh analis sistem dan programmer dalam membangun sistem informasi. System Development Lyfe Cycle (SDLC) merupakan keseluruhan proses dalam membangun sistem melalui beberapa langkah.

Langkah yang digunakan meliputi :

1. Melakukan survei dan menilai kelayakan proyek pengembangan sistem informasi

2. Mempelajari dan menganalisis sistem informasi yang sedang berjalan

3. Menentukan permintaan pemakai sistem informasi

4. Memilih solusi atau pemecahan masalah yang paling baik

5. Menentukan perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software)

6. Merancang sistem informasi baru

7. Membangun sistem informasi baru

8. Mengkomunikasikan dan mengimplementasikan sistem informasi baru

9. Memelihara dan melakukan perbaikan/peningkatan sistem informasi baru bila diperlukan

Dalam sebuah siklus SDLC, terdapat enam langkah. Jumlah langkah SDLC pada referensi lain mungkin berbeda, namun secara umum adalah sama. Langkah tersebut adalah

1. Analisis system, yaitu membuat analisis aliran kerja manajemen yang sedang berjalan

2. Spesifikasi kebutuhan system, yaitu melakukan perincian mengenai apa saja yang dibutuhkan dalam pengembangan sistem dan membuat perencanaan yang berkaitan dengan proyek system

3. Perancangan system, yaitu membuat desain aliran kerja manajemen dan desain pemrograman yang diperlukan untuk pengembangan sistem informasi

4. Pengembangan system, yaitu tahap pengembangan sistem informasi dengan menulis program yang diperlukan

5. Pengujian system, yaitu melakukan pengujian terhadap sistem yang telah dibuat

6. Implementasi dan pemeliharaan system, yaitu menerapkan dan memelihara sistem yang telah dibuat

Siklus SDLC dijalankan secara berurutan, mulai dari langkah pertama hingga langkah keenam. Setiap langkah yang telah selesai harus dikaji ulang. Kaji ulang yang dimaksud adalah pengujian yang sifatnya quality control, sedangkan pengujian di langkah kelima bersifat quality assurance. Quality control dilakukan oleh personal internal tim untuk membangun kualitas, sedangkan quality assurance dilakukan oleh orang di luar tim untuk menguji kualitas sistem. Semua langkah dalam siklus harus terdokumentasi. Dokumentasi yang baik akan mempermudah pemeliharaan dan peningkatan fungsi sistem.

SDLC berfungsi untuk menggambarkan tahapan-tahapan utama dan langkah-langkah dari setiap tahapan, pada referensi lain secara garis besar terbagi dalam tiga kegiatan utama, yaitu :

a. Analysis

b. Design

c. Implementation

Setiap kegiatan dalam SDLC dapat dijelaskan melalui tujuan (purpose) dan hasil kegiatannya (deliverable). Apabila kegiatan utama tersebut dijabarkan ke dalam langkah-langkah yang lebih rinci dapat digambarkan seperti berikut:

ANALYSIS

Dalam tahap analisis ini, digunakan oleh analis sistem untuk :

a. Membuat keputusan apabila sistem saat ini mempunyai masalah atau sudah tidak berfungsi secara baik dan hasil analisisnya digunakan sebagai dasar untuk memperbaiki sistem

b. Mengetahui ruang lingkup pekerjaannya yang akan ditanganinya.

c. Memahami sistem yang sedang berjalan saat ini

d. Mengidentifikasi masalah dan mencari solusinya

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap analisis ini adalah :

* Problem detection

a. Tujuan : Mendeteksi sistem, apabila sistem saat ini semakin berkurang manfaatnya (memburuk).

b. Hasil : Laporan pendahuluan tentang permasalahan yang terjadi dalam sistem.

* Initial investigation

a. Tujuan : Memerikan sistem saat ini dengan penekanan pada daerah-daerah yang menimbulkan permasalahan.

b. Hasil : Penjelasan sistem saat ini.

* Requirement analysis (determination of ideal systems)

a. Tujuan : Mendapatkan konsensus dari komunitas pemakai dari sistem informasi yang ideal. Sebuah penggantian sistem akan menimbulkan jarak antara sistem saat ini dengan sistem yang ideal (yang mengacu ke komputerisasi).

b. Hasil : Penjelasan kebutuhan analisis terhadap sistem.

* Generation of system alternatives

a. Tujuan : Menggali (explore) perbedaan dari alternatif sistem dalam mengurangi jarak (gap) antara sistem saat ini dengan sistem idealnya.

b. Hasil : Dokumen-dokumen tentang alternatif sistem yang akan digunakan untuk memperbaiki sistem.

* Selection of proper system

a. Tujuan : Membandingkan alternatif-alernatif sistem dengan menggunakan metodologi terstruktur, memilih alternatif sistem yang paling baik, dan menjualnya (sell) kepada management.

b. Hasil : Hasil-hasil dari studi sistem.

DESIGN

Dalam tahap perancangan (desgin) memiliki tujuan, yaitu untuk :

Mendesain sistem baru yang dapat menyelesaikan masalah-masalah yang dihadapi perusahaan yang diperoleh dari pemilihan alternatif sistem yang terbaik.

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap perancangan ini adalah :

* Output design

a. Tujuan : Memerikan bentuk-bentuk laporan sistem dan dokumennya.

b. Hasil : Bentuk (forms) dari dokumentasi keluaran (output).

* Input design

a. Tujuan : Memerikan bentuk-bentuk masukan didokumen dan dilayar ke sistem informasi.

b. Hasil : Bentuk (forms) dari dokumentasi masukan (input).

* File design

a. Tujuan : Memerikan bentuk-bentuk file-file yang dibutuhkan dalam sistem informasi.

b. Hasil : Bentuk (forms) dari dokumentasi file.

IMPLEMENTATION

Dalam tahap implementasi memiliki beberapa tujuan, yaitu untuk :

a. Melakukan kegiatan spesifikasi rancangan logikal ke dalam kegiatan yang sebenarnya dari sistem informasi yang akan dibangunnya atau dikembangkannya.

b. Mengimplementasikan sistem yang baru.

c. Menjamin bahwa sistem yang baru dapat berjalan secara optimal.

Kegiatan yang dilakukan dalam tahap implementasi ini adalah :

* Programming & testing

a. Tujuan : Mengkonversikan perancangan logikal ke dalam kegiatan operasi coding dengan menggunakan bahasa pemograman tertentu, dan mengetest semua program serta memastikan semua fungsi / modul program dapat berjalan secara benar.

b. Hasil : Coding program dan spesifikasi program.

* Training

a. Tujuan : Memimpin (conduct) pelatihan dalam menggunakan sistem, persiapan lokasi latihan dan tugas-tugas lain yang berhubungan denganp pelatihan (buku-buku panduan sistem).

b. Hasil : Rencana pelatihan sistem, modul-modul katihan dan sebagainya.

* System changeover

a. Tujuan : Merubah pemakaian sistem lama ke sistem bari dari sistem informasi yang berhasil dibangun.Perubahan sistem merupakan tanggungjawab team designer ke pemakai siste (user organization).

b. Hasil : Rencana (jadwal dan metode) perubahan sistem (contract).

Ada beberapa model SDLC. Model yang cukup populer dan banyak digunakan adalah waterfall. Beberapa model lain SDLC misalnya fountain, spiral, rapid, prototyping, incremental, build & fix, dan synchronize & stabilize.

Metodologi SDLC

a. Metodologi Waterfall

o Disebut juga siklus klasik (1970-an) dan sekarang ini lebih dikenal dengan sekuensial linier

o Setiap fase pada waterfall dilakukan secara berurutan

o Sebuah fase tidak dapat dikerjakan sebelum fase-fase sebelumnya selesai

Kelebihan :

+ Kebutuhan sistem didefinisikan secara lengkap dan benar di awal project sehingga pengembangan sistem berjalan dengan baik tanpa masalah

Kekurangan :

- Ketika masalah muncul, maka proses akan berhenti.

b. Metodologi Prototype

Prototype digunakan untuk membantu sistem desain yang akan dibangun sistem informasi dan mudah diubah untuk end user, prototype merupakan bagian dari proses iterative phase analisa dari metodologi SDLC.

Kelebihan :

+ Analisis system dapat bekerja lebih baik dalam menentukan kebutuhan user

+Penerapan menjadi lebih mudah karena user mengetahui apa yang diharapkan.

Kekurangan :

- Proses prototype cenderung lambat karena user akan menambah komponen dari luar sistem

- Terkadang user mengharapkan sesuatu yang tidak realistis

c. Metodologi RAD

Kelebihan :

+ User dapat memperoleh/menggunakan sistem labih awal

Kekurangan :

- RAD tidak cocok digunakan untuk sistem yang memiliki risiko tinggi

- User bekerja dengan sistem yang sebenarnya belum selesai secara keseluruhan

d. Metodologi Spiral

o Model ini merupakan perbaikan dari model waterfall dan prototype

o Setiap perpindahan level didahului analisa risiko

Kelebihan :

+ Lebih cocok untuk pengembangan sistem dan perangkat lunak berskala besar

Kekurangan :

- Memerlukan tenaga ahli untuk memperkirakan risiko karena memerlukan penaksiran sehingga tidak terjadi masalah yang serius.

e. Metodologi Incrementall

o Merupakan gabungan metodologi waterfall dengan prototyping

o Model pengembangan sistem pada software engineering berdasarkan permintaan yang dipecah menjadi beberapa fungsi atau bagian sehingga model pengembangannya secara increment/bertahap

Kelebihan :

+ Pengembang bekerja optimal

+ Pihak konsumen dapat langsung menggunakan dahulu bagian-bagian yang telah selesai dibangun. Contohnya pemasukan data pegawai

Kekurangan :

- Butuh waktu yang relatif lama untuk menghasilkan produk yang terlengkap

- Kemungkinan tiap bagian tidak dapat diintegrasikan


Sumber :

http://tentanginformatika.blogspot.com/2011/02/system-life-cycle-slc.html

http://mastomizagreenada.blogspot.com/2010/05/pengertian-system-development-life.html

http://arniladwilestari.wordpress.com/2010/12/03/perbedaan-system-life-cycle-slc-dengan-system-development-life-cycle-sldc/

http://dedew-ofthinkingabout.blogspot.com/2010/11/perbedaan-system-life-cycle-slc-dengan.html

http://teknologi.kompasiana.com/terapan/2010/12/30/system-development-life-cycle/

http://www.pde.dharmasrayakab.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=108&Itemid=44

http://togaptar.wordpress.com/2011/02/08/system-development-life-cycle-sdlc/

Jumat, November 11, 2011

Jumat, Oktober 28, 2011

Pasar Tradisional dan E Commerce

Pasar Tradisonal

Pasar tradisional merupakan tempat bertemunya penjual dan pembeli serta ditandai dengan adanya transaksi penjual pembeli secara langsung dan biasanya ada proses tawar-menawar, bangunan biasanya terdiri dari kios-kios atau gerai, los dan dasaran terbuka yang dibuka oleh penjual maupun suatu pengelola pasar. Kebanyakan menjual kebutuhan sehari-hari seperti bahan-bahan makanan berupa ikan, buah, sayur-sayuran, telur, daging, kain, pakaian barang elektronik, jasa dan lain-lain. Selain itu, ada pula yang menjual kue-kue dan barang-barang lainnya.

Ciri – Ciri Pasar Tradisional

  • Pembeli dan penjual bertemu secara langsung
  • Transaksi terjadi secara langsung
  • Mekanisme transaksi dengan tawar – menawar
  • Menyediakan segala macam barang
  • Pada pasar tradisional khusus, hanya menyediakan satu jenis barang

Kelebihan Pasar Tradisional

  • Lokasi yang strategis
  • Area penjualan yang luas
  • Keragaman barang yang lengkap
  • Harga yang rendah
  • Sistem tawar menawar yang menunjukkan keakraban antara penjual dan pembeli

Selain keunggulan diatas, pasar tradisional juga merupakan salah satu pendongkrak perekonomian kalangan menengah ke bawah, dan itu jelas memberikan efek yang baik Negara. Dimana Negara ini memang hidup dari perekonomian skala mikro dibanding skala makro.
Sisi kekeluargaan antara pembeli dan penjual menjadi satu pemandangan yang indah kala berada di pasar dan bahkan ada juga yang namanya langganan dan itu bisa menjadi hubungan yang tidak bisa terpisahkan bagaikan persaudaraan yang sudah sangat dekat sekali.

Kelemahan Pasar Tradisional

Pasar tradisional memiliki kelemahan yang sangat penting ialah pada kumuh dan kotornya lokasi pasar. Bukan hanya itu saja, banyaknya produk yang mayoritas diperjualbelikan oleh oknum pedagang yang tak bertanggung jawab itu menggunakan bahan kimia yang tak seharusnya dipakai, dan praktek seperti itu marak sekali terjdai di pasar tradisional.
Bukan hanya itu saja, cara pengemasan di pasar tradisional juga membuatnya kurang dilirik konsumen, bahkan makin hari bukannya semakin bagus akan tetapi malah semakin memburuk kondisinya. Dan jelas hal seperti itu cukup membahayakan keberadaan pasar tradisional.

E – Commerce

E-Commerce atau dalam bahasa Indonesia disebut perdagangan elektronik merupakan penyebaran, pembelian, penjualan, pemasaran barang dan jasa melalui sistem elektronik seperti internet atau televisi, website, atau jaringan komputer lainnya. E-commerce dapat melibatkan transfer dana elektronik, pertukaran data elektronik, sistem manajemen inventori otomatis, dan sistem pengumpulan data otomatis.

Dari penjabaran diatas, e-commerce bisa dibilang merupakan sebuah pasar perdagangan modern. Berbeda dari pasar perdagangan konvensional, e-commerce tidak mengharuskan seorang pelaku usaha memiliki sebuah toko fisik. Siapapun yang memiliki barang atau usaha yang bisa diperdagangkan dan mempunyai pemahaman dasar tentang internet bisa menjadi bagian dari sebuah pelaku usaha e-commerce.

Kelebihan E-Commerce

  • Otomatisasi, menggantikan proses manual
  • Integrasi, meningkatkan efisiensi & efektifitas proses
  • Publikasi, memberikan jasa promosi & komunikasi atas produk & jasa yang dipasarkan
  • Interaksi, pertukaran data/informasi antar berbagai pihak yang akan meminimalkan “human error”
  • Transaksi, kesepakatan antara 2 pihak untuk melakukan transaksi yg melibatkan institusi lain.

Kekurangan E-Commerce

- Keamanan sistem rentan diserang, apalagi sebuah e-commerce otomatis menjadi incaran serangan karena lalu lintas uang yang tidak sedikit. Terdapat sejumlah laporan mengenai website dan basis data yang dihack, dan berbagai lubang kelemahan keamanan dalam software. Hal ini dialami oleh sejumlah perusahaan besar seperti Microsoft dan lembaga perbankan.

- Perlunya keahlian komputer serta perlunya biaya tambahan untuk mengakses internet dan perlatan komputer. Meski dewasa ini komputer dan internet bukan lagi hal yang aneh, tapi tetap ada beberapa orang yang masih awam dengan persoalan komputer, bahkan internet.

- Resiko bocornya privasi dan data pribadi. Segala hal mungkin saja terjadi saat konsumen mangakses internet untuk menjalankan e-commerce, termasuk risiko bocornya data pribadi seperti no kartu kredit.

- Berkurangnya waktu untuk berinteraksi secara langsung dengan orang lain. Transaksi e-commerce yang berlangsung secara on-line telah mengurangi waktu konsumen untuk dapat melakukan proses sosial dengan orang lain. Tapi tidak dapat dipungkiri, tekhnologi bagaikan sebuah mata pedang. Di satu sisi tekhnologi mendekatkan orang yang jauh, tapi di sisi lain tekhnologi juga membuat kita kurang berinteraksi secara fisik dengan manusia lain.

- Berkurangnya rasa kepercayaan karena konsumen berinteraksi hanya dengan komputer. Tidak sedikit website e-commerce yang tampak meyakinkan tapi ternyata hanyalah penipu yang memajang barang milik orang lain. Dunia internet sendiri merupakan sebuah dunia yang amat luas yang amat sangat rentan terhadap penipuan.

Website merupakan sebuah pintu bagi sebuah perusahaan untuk melakukan e-bussiness. Dengan website, perusahaan bisa menjual barangnya tanpa perlu menunjukkan fisik asli barang kepada calon pembeli. Tetapi bukannya calon pembeli tidak boleh mengetahui bentuk fisik barangnya. Calon pembeli bisa mengetahui bentuk fisik barang yang diminatinya dengan cara melihat gambar yang telah disediakan perusahaan.

Contoh sebuah website e-commerce :

  1. Bhineka. Merupakan sebuah website toko elektronik. Di websitenya, kita bisa melihat barang yang ingin kita beli kemudian memesannya. Ketika sudah deal, kita tinggal mentransfer sejumlah uang kemudian melakukan konfirmasi. Ketika konfirmasi tersebut dinyatakan benar, pihak Bhineka akan segera mengirimkan barang pesanan kita.
  2. PayPal. Merupakan sebuah website bank elektronik. Selayaknya bank fisik, Paypal juga memiliki account rekening dan segala macamnya. Bahkan untuk pendaftarannya juga sama persis dengan bank fisik. Keunggulan PayPal ada di dalam transfer antar mata uang. Jadi ketika kita membutuhkan dolar untuk membayar sebuah aplikasi yang ingin kita beli dari android market misalnya, kita tinggal mentransfer rupiah ke account PayPal kita yang selanjutnya bisa di konversi ke mata uang yang dibutuhkan.

Mekanisme E-Commerce

§ Pembeli yang hendak memilih belanjaan yang akan dibeli bisa menggunakan ‘shopping cart’ untuk menyimpan data tentang barang-barang yang telah dipilih dan akan dibayar. Konsep ‘shopping cart’ ini meniru kereta belanja yang biasanya digunakan orang untuk berbelanja di pasar swalayan. ‘Shopping cart’ biasanya berupa formulir dalam web, dan dibuat dengan kombinasi CGI, database, dan HTML. Barang-barang yang sudah dimasukkan ke shopping cart masih bisa di-cancel, jika pembeli berniat untuk membatalkan membeli barang tersebut.

§ Jika pembeli ingin membayar untuk barang yang telah dipilih, ia harus mengisi form transaksi. Biasanya form ini menanyakan identitas pembeli serta nomor kartu kredit. Karena informasi inibisa disalahgunakan jika jatuh ke tangan yang salah, maka pihak penyedia jasa e-commerce telah mengusahakan agar pengiriman data-data tersebut berjalan secara aman, dengan menggunakan standar security tertentu.

§ Setelah pembeli mengadakan transaksi, retailer akan mengirimkan barang yang dipesan melalui jasa pos langsung ke rumah pembeli. Beberapa cybershop menyediakan fasilitas bagi pembeli untuk mengecek status barang yang telah dikirim melalui internet

Kegiatan bisnis, baik secara tradisional maupun modern (elektronik) pada intinya tetap sama. Penjual dan pembeli sepakat tentang harga barang, pembeli membayar seharga yang ditentukan, dan penjual melepas barang dengan harga yang telah ditentukan. Namun dengan perkembangan tekhnologi yang pesat saat ini, kita tidak harus melakukan hal itu dengan bertemu secara tatap muka.

Sumber :

http://id.wikipedia.org/wiki/Pasar

http://www.elanguages.org/58071

http://id.wikipedia.org/wiki/Perdagangan_elektronik

http://wiwied.staff.gunadarma.ac.id/Downloads/files/9036/slide_E-Commerce.pdf

Dampak IPTEK Terhadap SDM Indonesia Dalam Persaingan Global

Pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, menciptakan struktur baru, yaitu struktur global. Struktur tersebut akan mengakibatkan semua bangsa di dunia termasuk Indonesia, mau tidak mau akan terlibat dalam suatu tatanan global yang seragam, pola hubungan dan pergaulan yang seragam khususnya dibidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Aspek Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (IPTEK) yang semakin pesat terutama teknologi komunikasi dan transportasi, menyebabkan issu-issu global tersebut menjadi semakin cepat menyebar dan menerpa pada berbagai tatanan, baik tatanan politik, ekonomi, sosial budaya maupun pertahanan keamanan. Dengan kata lain globalisasi yang ditunjang dengan pesat ilmu pengetahuan dan teknologi telah menjadikan dunia menjadi transparan tanpa mengenal batas-batas negara.

Dengan perkembangan teknologi yang begitu pesat, masyarakat dunia khususnya masyarakat Indonesia terus berubah sejalan dengan perkembangan teknologi, dari masyarakat pertanian ke masyarakat industri dan berlanjut ke masyarakat pasca industri yang serba teknologis. Pencapaian tujuan dalam bidang politik, ekonomi, sosial budaya dan pertahanan keamanan cenderung akan semakin ditentukan oleh penguasaan teknologi dan informasi, walaupun kualitas sumber daya manusia (SDM) masih tetap yang utama.

Sumberdaya manusia (SDM) merupakan salah satu faktor kunci dalam persaingan global, yakni bagaimana menciptakan SDM yang berkualitas dan memiliki keterampilan serta berdaya saing tinggi dalam persaingan global yang selama ini kita abaikan. Globalisasi yang sudah pasti dihadapi oleh bangsa Indonesia menuntut adanya efisiensi dan daya saing dalam dunia usaha. Dalam globalisasi yang menyangkut hubungan intraregional dan internasional akan terjadi persaingan antarnegara.

Rendahnya SDM Indonesia diakibatkan kurangnya penguasaan IPTEK, karena sikap mental dan penguasaan IPTEK yang dapat menjadi subjek atau pelaku pembangunan yang handal. Dalam kerangka globalisasi, penyiapan pendidikan perlu juga disinergikan dengan tuntutan kompetisi. Oleh karena itu dimensi daya saing dalam SDM semakin menjadi faktor penting sehingga upaya memacu kualitas SDM melalui pendidikan merupakan tuntutan yang harus dikedepankan.
Salah satu problem struktural yang dihadapi dalam dunia pendidikan adalah bahwa pendidikan merupakan subordinasi dari pembangunan ekonomi. Pada era sebelum reformasi pembangunan dengan pendekatan fisik begitu dominan. Hal ini sejalan dengan kuatnya orientasi pertumbuhan ekonomi.

Pengaruh IPTEK terhadap peningkatan SDM Indonesia khususnya dalam persaingan global dewasa ini meliputi berbagai aspek dan merubah segenap tatanan masyarakat. Aspek-aspek yang dipengaruhi, adalah sebagai berikut :

1. Dampak yang ditimbulkan oleh teknologi dalam era globalisasi, khususnya teknologi informasi dan komunikasi, sangat luas. Teknologi ini dapat menghilangkan batas geografis pada tingkat negara maupun dunia.

2. Aspek Ekonomi.

Dengan adanya IPTEK, maka SDM Indonesia akan semakin meningkat dengan pengetahuan-pengetahuan dari teknologi tersebut. Dengan kemajuan SDM ini, tentunya secara tidak langsung akan mempengaruhi peningkatan ekonomi di Indonesia. Berkaitan dengan pasar global dwasa ini, tidaklah mungkin jika suatu negara dengan tingkat SDM rendah dapat bersaing, untuk itulah penguasaan IPTEK sangat penting sekali untuk dikuasai.

Selain itu, tidak dipungkiri globalisasi telah menimbulkan pergeseran nilai dalam kehidupan masyarakat di masa kini akibat pengaruh negatif dari globalisasi.

3. Aspek Sosial Budaya.

Globalisasi juga menyentuh pada hal-hal yang mendasar pada kehidupan manusia, antara lain adalah masalah Hak Asasi Manusia (HAM), melestarikan lingkungan hidup serta berbagai hal yang menjanjikan kemudahan hidup yang lebih nyaman, efisien dan security pribadi yang menjangkau masa depan, karena didukung oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Dampak yang timbul diakibatkannya ikatan-ikatan tradisional yang kaku, atau dianggap tidak atau kurang logis dan membosankan. Akibat nyata yang timbul adalah timbulnya fenomena-fenomena paradoksal yang muaranya cenderung dapat menggeser paham kebangsaan/nasionalisme. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan meningkatnya tanggapan masyarakat atas kasus-kasus yang terjadi dinilai dengan didasarkan norma-norma kemanusiaan atau norma-norma sosial yang berlaku secara umum (Universal internasional).


Sumber :

http://emperordeva.wordpress.com/about/sdm-indonesia-dalam-persaingan-global/

http://idb2.wikispaces.com/file/view/rd2011.pdf